Berikut adalah poin-poin penting sejarah Kota Subulussalam:
Asal-usul Nama (1962): Pada 14 September 1962, Prof. Ali Hasyimi (Gubernur Aceh saat itu) mengunjungi wilayah yang saat itu merupakan bagian dari Kecamatan Simpang Kiri, Kabupaten Aceh Selatan. Ia menabalkan nama "Subulussalam" dari bahasa Arab (Subulus Salam), yang berarti jalan keselamatan/kedamaian/kesejahteraan.
Pemekaran Wilayah: Setelah Kabupaten Aceh Singkil memisahkan diri dari Aceh Selatan pada 1999, muncul aspirasi untuk membentuk daerah otonom sendiri karena faktor geografis dan keinginan mempercepat pembangunan.
Peresmian Kota (2007): Setelah perjuangan panjang, Subulussalam resmi ditetapkan sebagai kota otonom pada 2 Januari 2007. Peresmian pemerintahannya dilakukan oleh Mendagri Ad Interim, Widodo AS, pada 15 Juni 2007.
Pemerintahan: Pj. Walikota pertama adalah H. Asmauddin, SE. Kota ini terdiri dari beberapa kecamatan, di antaranya Simpang Kiri, Penanggalan, Rundeng, Sultan Daulat, dan Longkib.
Julukan dan Budaya: Kota ini dikenal dengan julukan "Kota 1001 Air Terjun". Mayoritas penduduknya berasal dari suku Singkil, dengan kebudayaan khas seperti tarian dampeng.
Pemerintah Kota Subulussalam
Pemerintah Kota Subulussalam
+5
Subulussalam saat ini berkembang sebagai kota perdagangan dan jasa di bagian barat Aceh, berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Utara.
